Tuesday, January 06, 2004

ada dua hal yang nurray ketemukan malam kemarin; saat (akhirnya) nurray bisa bergadang lagi... setelah hidungku "normal" lagi...

yang pertama bahwa waktu itu takkan pernah kembali...

apa yang sudah lewat akan terus lewat, dengan sangat cepat atau amat lambat, tergantung bagaimana kita mengalaminya. senja yang telah lewat akan selalu lewat, sebagaimana fajar yang datang akan tetap datang: tapi bukan senja dan fajar yang sama yang telah datang hari ini.
kemarin, waktu balik dari jatinangor, senja lagi indah-indahnya menggantung di langit di sekitar kabut yang turun di Manglayang... innndddaaahhhhh baannggettttt... such a pretty sight, that makes me wanna cry... indah banget liat senja itu pelan-pelan turun di balik pohon-pohon tinggi di sekitar bundaran cibiru, sementara bis dengan tenangnya meluncur ke arah senja itu turun...
kalau aja itu mobil pribadi, nurray pasti dah berhenti, atau malah terus tambah kencang melaju mengejar senja... terusss... sampai akhirnya senja itu dah menghilang di balik cakrawala... dan aku pasti dah nangis di sana... senja itu indahhhh banggettt... senja sore kemarin...

yang kedua adalah tentang apa yang nurray sebenarnya inginkan di hidup ini nantinya... ada yang bisa katakan apa yang mau kautuliska dalam hidupmu... dengan yakin dan pasti?

ada satu puisi di koran PR apa Kompas aku lupa, yang bikin nurray inget ama dua hal yang pernah nurray dan seorang teman bicarakan: tentang rumah dan senja...

cita-cita

Setelah punya rumah, apa cita-citamu? Kecil saja:
ingin bisa sampai di rumah saat masih senja supaya
saya dan senja sempat minum teh bersama di depan
jendela.

Ah cita-cita. Makin hari kesibukan makin bertumpuk,
uang makin banyak maunya, jalanan macet, akhirnya
pulang terlambat. Seperti turis lokal saja, singgah
menginap di rumah sendiri buat sekedar melepas
penat.

Tak usahlah beranda-andai: saat baru saja mulai
akrab dengan rumah (yang baru saja tamat cicilan
kreditnya), tiba-tiba Telah Pulang ke Rumah Bunda
di Surga
...

Terberkatilah waktu yang dengan tekun dan sabar
membangun serangkut tubuhku menjadi rumah besar
yang ditunggui seorang ibu. Ibu Waktu berbisik mesra:
"Sudah kubuatkan sarang senja di bujur barat
tubuhmu. Senja sedang berhangat-hangat di dalam
sarangnya."

a poem by Joko Pinurbo, 2003

nurray cuma berharap... ada satu senja yang bisa terus nurray saksikan dengan penuh syukur tiap-tiap harinya...
jangan sampai ketika waktu telah berlalu begitu cepat, senja itupun juga telah berlalu...

No comments: