Beberapa bulan terakhir ini, lingkungan kantor gw sedang sangat dipenuhi semangat beranak pinak (baca: kawin). Gejala yang mendunia, sebenarnya. Termasuk dua teman dekat gw yang tiba-tiba jadi ikut bicara soal planning nikah tahun depan. Tiba-tiba, all of the sudden, I feel like I’m the last woman standing. Sempet juga nyanyi lagu lamanya Queen: can anybody find me, somebody to love. Tapi lama-lama bosen sendiri. But honestly, gw sempet merasa agak terpojok, terutama dalam acara-acara kantor, dengan pertanyaan: mana cowo lo? Atau dengan kegemaran beberapa teman gw untuk menjodohkan gw dengan teman lainnya. Suddenly cuma punya pacar sekalipun, is a must.
Seperti kata mbak Ayu Utami, [nikah] itu masih titik nol, ga [nikah] itu minus. Di teks aslinya mbak Ayu menggunakan kata “kawin”, but on that, once, I disagree with her. Ga kawin itu ga minus. Kalo gw lihat saat ini, despite of the fact that sebutan “perawan tua” itu masih merupakan sesuatu yang rather sensitive, perempuan gampangan (atau istilah baru-nya “jablay”) sebenarnya sesuatu yang lebih tidak berterima. Makanya ada suatu anggapan di daerah tertentu kalau lebih baik punya anak perempuan janda daripada anak perempuan yang tidak menikah: pamali. Jadi, itulah permainan takdir, perempuan punya selaput dara dan laki-laki ga punya selaput perjaka. Dan semuanya masih berputar di daerah selangkangan.
Padahal manusia itu mempunyai banyak organ yang lain, tapi (katanya) itu lah yang memberi kenikmatan terbaik. Rekreasi yang paling afdol. Bicara soal seks, dalam falsafah agama monoteis, kawin itu sama dengan prokreasi. Makanya hubungan yang tujuannya rekreasi itu dosa; semacam perselingkuhan itu berat dosanya. Juga, makanya hubungan homoseksual itu dilarang, soalnya ga akan ada yang namanya prokreasi. Jadi, soal bagian ini memang isu yang susah-susah gampang. Ditahan gatal digaruk jangan, kecuali kalau sudah disahkan di Pengadilan, bersepakat secara notariil. Sah secara hukum. Institutionalized.
So, now let’s talk about sex intercourse. Salah satu rekan kerja gw baru nikah bulan lalu, dan beberapa hari setelahnya joke di kantor sangat santer berhubungan dengan malam pertama, terutama dari yang masih single. Semacam “stress” yang ditahan: belum boleh mengalami, makanya “mengalami” melalui orang lain. Lucu juga, soalnya ternyata punya nyata “rasa gatal” itu sesuatu yang tidak boleh diakui secara publik. Jadi secara sembunyi-sembunyi melatih alat genitalnya-nya biar ga cuma dipakai untuk kencing doank atau ketawa-ketawa soal yang jorok-jorok tiap hari. Gatal yang mengganggu tapi ga boleh digaruk. At least secara publik.
Di “Empat Mata” pernah dihadirkan beberapa tokoh politik yang artis, dan artis yang tokoh politik. Salah satunya, gw lupa siapa, bilang politik itu sebenernya sangat sehari-hari: apapun yang kita pilih untuk lakukan dalam hidup kita itu politis. So in a way, semuanya memang politis, termasuk daerah kawin mengawinkan. Buat yang masih un-married jadinya ini gatal yang masih harus ditahan sendirian. Politically correct.
Dan bicara tentang pernikahan, sebagai sebuah institusi,masih merupakan sebuah institusi yang lumayan menakutkan buat gw. In a way, Women are from Venus, Men are from Hell (I mean Mars) is true: men and women do talk in a different kind of language. Jadi, mau dibilang sebaik apapun seorang laki-laki menganggap caranya memperlakukan istrinya, tetap ada lack of understanding, karena pemahaman akan maksud dari bahasa yang diucapkan sudah “men-predominated”. Kalo kata “Love and Other Disasters”, the problem of straight men are that in the end of the day there is only one thing that they want: domination. Film yang bagus, btw, nonton deh. Beberapa hari yang lalu, gw abis ngobrol ama seorang temen baik gw, dan kita sepakat tentang satu hal: we finally understood why Virginia Woolf (and Sylvia Plath in her case) be’s what she was.
Jadi, akhirnya apa makna semuanya ini bagi gw? Ayu Utami pernah bilang mansturbasi itu: asik bicara tentang diri sendiri. Berdasarkan konsep itu, berarti in a way gw eksbisionis, suka menampilkan diri sendiri. *grin* Seperti sesuatu yang menumpuk di pikiran dan tidak tahu bagaimana mendiskusikannya dengan sesama manusia di tempat gw berada sekarang. Jadi gw menjadi sedikit ‘eksibis’: menampilkannya di blog, memaksakan orang lain untuk “mendengarkan” sebuah monolog yang dipaksakan. Dan merasa didengarkan. Sebuah pemuasan ‘gatal’ yang lain. Yang tidak biologis, tapi tetap libidinal.
No comments:
Post a Comment