Ketika Tembok-tembok kusam itu begitu B i s u
Dalam kelam ini...
ada sesak yang masih terasa... tersisa...
Secangkir kopi dingin masih bisa meruap harumnya,
kala kerinduan menghambur di antara
helaian-helaian nafas...
tak terbaca...
..... bahkan suaramu saja tak bisa kucari ...
Apa yang sedang kaumimpikan kini?
angka-angka kosong pemberianmu
benar-benar menjadi rongsokan ...
penambah beban hati...
Dimana kau berada kini ...
masih layakkah ku ketahui?
Hanya mampu aku merenungi
malam yang dingin ini,
menatap tembok-tembok kusam
yang terus-menerus bisu...
... berat ...
karena tak mungkin ku merindukanmu ...
kau membatu... di sana ...
tempat manusia-manusia lain
yang boleh dengan setia menyapamu....
No comments:
Post a Comment